Jumat, 15 Juni 2012

Kau

Pada batasbatas sepi ini seseorang menyebut namakau:
Betapa jauh jarak kita!
Aku merabaraba dalam kabut di sini
Mengendus bau tubuhkau yang makin samar

Siapa kau? Mengapa wajahkau selalu membayang
samar, walau kabut menciptakan labirin antar kita?
Siapa kau? Mengapa bau tubuhkau selalu sampai
lamatlamat menyeberangi sepi yang memisahkan kita?

Pada batasbatas sepi ini masih juga kusebut namakau

(2012)

Senin, 08 Agustus 2011

Hari Minum Bir Sedunia




Tahun 2007, di Santa Cruz, California, Jesse Ashalomov dan teman-temannya punya ide gila: membuat perayaaan tahunan minum bir sedunia! Sebab ia yakin, "There aren't a lot of things the whole world agrees on, but enjoying Beer is one of them." (http://www.internationalbeerday.com/about/).

Baiklah, mungkin Anda termasuk orang yang tidak setuju dengan pernyataan Ashlomov itu. Saya kira ia memang berlebihan. Minum bir termasuk barang yang tidak semua orang setuju. Sebagian malah mengharamkannya. Tapi toh Ashalomov berjalan dengan idenya. 
"A few years back a group of friends and I decided that there needed to be a day in celebration of all things beer, a day in thanks to the people who produce and provide our favorite beverage."
Begitu katanya. Ia memilih tanggal 5 Agustus, entah karena alasan apa, dan mengajak semua orang di mana saja merayakannya. Setiap orang dapat datang, membeli bir, juga mentraktir temannya, dan menikmati sembari bercanda, tertawa, dan membangun jalinan persahabatan.

Ide sederhana itu, rupanya, menarik perhatian banyak orang. Konon, selain di AS, sekarang Australia, Belarus, Brazil, Canada, Costa Rica, Prancis, Jerman, Ghana, Inggris, Yunani, India, Israel, Malaysia, Mexico, New Zealand, Norwegia, Filipina, Romania, Slovenia, Afrika Selatan, Turkey, dan Venezuela ikut merayakannya. Data ini menurut Wikipedia. Saya tidak tahu apakah Indonesia termasuk merayakan atau tidak. Yang jelas, gagsan Hari Minum Bir Sedunia kini dirayakan di mana-mana.

Menanti giliran minum bir Tahun ini saya menikmati "International Beer Day" di Berlin. Bersama tiga teman, kami menikmati cuaca yang hangat dan minum bir di Karl-Marx Allee, tak jauh dari Alexander Platz. Di sepanjang jalan besar itu (entah apakah ada kaitan antara bir dengan Karl Marx, saya tidak tahu; yang jelas, jalan itu memang dimaksud untuk menghormatinya, dan masuk di wilayah Berlin Timur dulunya), ratusan gerai bir dijejer sepanjang 2 Km!

Ada bir rasa mangga di gerai Afrika Dan saya baru menyadari, bahwa bir, mungkin, salah satu minuman paling kompleks di dunia ini. Ini menyangkut bukan saja soal bahan baku bir, tapi juga proses pembuatan maupun campuran yang sangat khas dan kadang hanya muncul dalam waktu dan musim tertentu. Bagi orang Indonesia yang hanya mengenal jenis Pilsener, jelas akan bingung menghadapi aneka ragam bir: mulai dari weissbier (bir gandum dari Bavaria, Jerman) yang jadi favorit saya, sampai bir darimalt, bir dari mangga (Afrika), termasuk"bir asap" (rauchbier). Yang terakhir ini, konon, karena saat dibuat bir itu memang diasapi, seperti orang mengasapi daging ikan... 

Setiap jenis bir -- saya tidak tahu ada berapa jenis bir di dunia, mungkin ribuan -- punya 'cerita' sendiri. Dan 'cerita' itu, sesungguhnya, mau menyimpan tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tentang pernak-pernik kehidupan manusiawi yang layak dirayakan dan disyukuri. Sebab bir adalah tradisi manusiawi yang mungkin tak kudus, tapi toh tetap layak dirayakan. Kata Martin Luther, bapak Reformasi, ketika mengkritik pentingnya anggur dalam tradisi gerejawi (1532),
"Der Wein ist gesegnet und hat das Zeignis in der Schrift. Das Bier dagegen ist menschliche Tradition." (Anggur diberkati dan ada kesaksiannya dalam Kitab Suci. Namun Bir, bagaimanapun juga, merupakan tradisi manusiawi.)
Rasanya ia benar. Dan karena itu, orang Jerman selalu menikmati minum bir, merayakan tradisi manusiawi yang serba ringkih dan rapuh, tapi tetap sangat layak dirayakan.

Saya tidak mampu menikmati seluruh gerai sepanjang 2 Km itu. Tetapi di tengah perjalanan, satu hal yang membuat saya bangga: ada bir "Bintang" di antara botol-botol bir dari seluruh dunia. Dan yang lebih membuat saya bangga, di situ ditulis: Bier aus Indonesiche, "Bir dari Indonesia"! Hura!

Bir dari Indonesia

Maka saya menutup perjalanan ini dengan meminum bir Brocardus 1844, jenis weissbieryang punya kandungan alkohol 5,4%, diproduksi Karmeliten. Konon, ini brauerei  (tempat penyulingan) tertua, paling tidak di Hari Minum Bir Sedunia ini, karena sudah ada sejak 1367. Sungguh, bir punya 'cerita' panjang dan kompleks.

Prost!

Sabtu, 01 Januari 2011

Natal 2010: Sebuah Catatan



DALAM waktu yang agak lama, sekadar mengucapkan "Selamat Natal" bagi kaum Muslim di Indonesia menjadi peristiwa politik. Suatu counter-practice terhadap praktik dominan yang mengharamkan ucapan itu. Sebab di balik ucapan sederhana itu, ada semacam bayangan ketakutan -- mungkin sekadar di kepala para birokrat keagamaan -- kalau-kalau umat melakukan pencampuradukan aqidah. Bukankah mengucapkan "Selamat Natal" juga sekaligus berarti mengakui peristiwa inkarnasi Sabda menjadi manusia?

Itu sebabnya saya sering tercenung dan terharu, setiap kali rekan-rekan Muslim mengucapkan "Selamat Natal" pada saya dan keluarga. Tindakan itu seperti counter-practice terhadap ideologi dominan: suatu kesaksian bahwa jalinan persahabatan menembus, menggerogoti dan sekaligus melintasi sekat-sekat pemisahan dan pembedaan antar-agama yang dijaga mati-matian oleh para birokrat keagamaan maupun rezim kekuasaan. Juga tindakan itu mau melecehkan bayang-bayang ketakutan pada pencampuradukan aqidah. Malah, saya cenderung mendaku, itu adalah tindakan sekularisasi dalam arti yang sesungguhnya. Karena lewat tindakan itu, segala pertimbangan aqidah dilewati: jalinan persahabatan tidak memerlukan aturan-aturan hukum agama yang kerap malah memisahkan, ketimbang menyatukan.

Pengalaman Natal 2010 memberi bentuk konkret pada pendakuan saya itu. Pdt Albertus Patty, sahabat saya di GKI Maulana Yusuf, mengambil inisiatif yang bahkan melampaui segala kemungkinan: suatu ibadah Natal yang sengaja dirancang bersifat antar-agama! Ia mengundang Fariz RM, musikus kondang Bandung, grup qasidahan ar-Rahman, Yanti Kerlip dan Ulil Abshar-Abdalla untuk ikut serta dalam seluruh seluk beluk kebaktian Natal, dan berpartisipasi di dalamnya. Dan ia menyebut ini sebagai "langkah kecil" untuk menyemai kembali benih-benih persahabatan, jalinan cinta kasih dan saling menghormati, yang selama ini makin terkikis dari kehidupan di negara ini.



Boleh jadi, eksperimen GKI Maulana Yusuf bukan yang pertama. Saya tidak tahu persis apakah pernah ada di Indonesia langkah serupa sebelumnya. Namun, yang jelas, apa yang dilakukan GKI Maulana Yusuf akan dikenang sebagai terobosan penting. Dengan langkah itu, ditawarkan cara baru untuk menghayati pengalaman keagamaan: ibadah yang selama ini hanya dapat dibagikan dalam komunitas tertentu kini justru menjadi pintu bagi proses saling berbagi antar-komunitas.

Di situ segala pertimbangan dogmatis dilangkaui. Orang tidak lagi berbicara tentang rumusan-rumusan ajaran yang serba ketat dan kaku mengenai apa itu Natal. Ini hanya sekadar kesibukan para birokrat keagamaan yang mungkin diperlukan, namun jelas tidak memadai. Sebab rumusan-rumusan dogmatis hanyalah penanda-penanda pada proses yang selalu merupakan misteri yang tak terbahasakan. Alih-alih dari itu, pengalaman ibadah-lintas-agama membuka ruang bagi permenungan dan pemahaman teologis yang baru: Justru karena Natal adalah jawaban "Ya" yang radikal dari kasih Allah pada seluruh ciptaan-Nya, maka seyogianya perjumpaan dengan kehadiran Allah dalam Bayi mungil di Nazareth harus menjadi pengalaman bersama yang melintasi sekat-sekat antar-ras, antar-suku, antar-bangsa, antar-kepercayaan, maupun antar-agama. Di situ, lagu Joy to the World dapat berpadu dengan Shalawat Nabi, dan bacaan Injil saling berkelindan dengan renungan Qur'ani. Dalam setiap teks-teks yang dibacakan (atau juga dinyanyikan), kita  menemukan jejak-jejak Sang Misteri yang melangkaui segala upaya pembahasaan, dan mengundang kita menziarahi hidup di dalam ikatan cinta dan persahabatan.


Dan itu semua menantang bukan hanya pemahaman tentang apa arti pengalaman keberagamaan yang umum, tetapi juga apa arti iman, dan apa arti menjadi komunitas beriman yang dipanggil ke luar (gereja). Saya malah menengarai, perspektif teologis yang disibak lewat langkah eksperimental GKI Maulana Yusuf dapat menyumbang penting pada bagaimana memahami Ekumene -- bukan sekadar melintasi batas-batas tembok gerejawi, tetapi menjangkau pada keseluruhan "Oikos" Allah sendiri. Bukankah kita, setidaknya para pewaris tradisi keimanan Abraham, mengaku percaya bahwa kita semua adalah anak-anak Allah yang sedang dalam perjalanan kembali pada-Nya?

Natal 2010 hanyalah titik awal. Tetapi, saya kira, sungguh patut disyukuri karena kemungkinan-kemungkinan yang disibakkan oleh peristiwa itu akan bergema entah sampai kapan. Terima kasih untuk undangan yang memungkinkan saya mengalaminya.

Selamat mengarungi peziarahan baru!

Senin, 08 November 2010

In Memoriam Asmara Nababan


Demokrasi Sebagai Janji
In Memoriam Asmara Nababan

Pada akhirnya Bang As -- begitu biasa kami memanggil Asmara Nababan -- menyerah. Di Guang Zhou, China, ia menghembuskan nafas terakhir pada hari Sumpah Pemuda setelah bergulat dengan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Ia sudah "menyelesaikan pertandingan dengan baik", memakai istilah Paulus, dan kembali ke rumah Bapa yang sangat dicintainya.

Sulit sekali bagi saya menuliskan kenangan tentang Bang As. Dibanding banyak sahabatnya, saya termasuk orang yang tidak terlalu dekat dengannya. Selalu ada jarak di antara kami, karena saya melihat dia lebih sebagai figur panutan yang saya kagumi dari jauh. Apalagi sepak terjangnya sebagai Sekjen Komnas HAM. Di tangannya, lembaga yang pernah dicibir karena didirikan oleh pemerintahan rezim Soeharto itu, justru berkibar dan menjadi mercu suar perjuangan hak-hak asasi manusia.

Hanya sesekali kami berjumpa di forum diskusi, atau saat menyuarakan sikap menghadapi kasus-kasus tertentu. Dan selalu saya mengambil jarak, mengagumi dari jauh lontaran gagasan maupun ketajaman pikirannya, apalagi integritas pribadinya.

Terus terang, saya tidak berani terlalu mendekat, apalagi berdiri sejajar dengannya. Ia memang sosok idola saya, sama seperti almarhum Eka Darmaputera, Th. Sumartana, Gus Dur, Romo Mangun, Pramoedya maupun Soedjatmoko. Pada setiap pribadi itu, saya seakan menemukan jejak-jejak evolusi peradaban yang membingkai proses meng-Indonesia yang belum selesai. Setiap pribadi adalah tonggak penanda, sekaligus "janji" bahwa Indonesia sebagai cita-cita masih sangat layak diperjuangkan.

Asmara pantas disejajarkan dengan mereka. Pengabdiannya yang tulus bagi perjuangan HAM, dan integritas pribadinya, meninggalkan jejak sekaligus tolok ukur sampai sejauh mana pemuliaan martabat manusia Indonesia sudah diupayakan. Ketegasan komitmen dan pengabdian tanpa pamrih yang dijalani seumur hidupnya merupakan saksi sejarah yang tak dapat dihapus.

Kami mulai dekat dan sering bertukar pikiran semenjak Bang As meminta saya ikut mengelola DEMOS. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa DEMOS bukanlah sekadar lembaga, tetapi menjadi kristalisasi dari seluruh keprihatinan Bang As selama ini: DEMOS merupakan pertaruhan paripurnanya! Karena dalam lembaga inilah, dua jalinan penting yang memintal kehidupan dan perjuangannya menggumpal: Demokrasi dan HAM.

Dan keduanya, seperti berulang kali ia tegaskan, tidak boleh dipisahkan. Demokrasi tanpa penghormatan terhadap HAM akan dengan sangat mudah menjadi tirani mayoritas di mana "the winner takes all", dan menafikan kelompok-kelompok minoritas yang rentan. Karena itu, perjuangan bagi demokrasi pada dasarnya merupakan perjuangan demi penegakkan hak asasi manusia, bukan sekadar utak-atik prosedur, mekanisme maupun jumlah suara. Dan ini, pada gilirannya, mengandaikan keterlibatan masyarakat (yakni "demos", δῆμος) yang sadar akan hak-haknya dan memiliki kemampuan serta mau memperjuangkannya demi kemashalatan bersama.

Saya kira, itulah warisan terakhir Bang As yang paling berharga. Di tengah hiruk pikuk transisi demokrasi di mana ia terlibat penuh, figur Asmara Nababan menjulang seperti tonggak peringatan bahwa proses demokratisasi tidak akan bermakna jika tidak mampu menciptakan ruang bagi penghormatan terhadap martabat manusia. Itulah titik uji demokrasi yang sesungguhnya, bukan soal hitung cepat atau perolehan suara sesaat yang kerap bersifat ilusif.

Demokrasi, meminjam istilah Jacques Derrida, selalu merupakan "janji" yang mengundang kita untuk terus menerus berusaha menghadirkannya, sekaligus sadar bahwa "janji" itu selalu mrucut dari genggaman kita. Pergulatan dan perjuangan tanpa letih Asmara memperlihatkan bagaimana "janji" itu sungguh hidup dalam sanubari kita sebagai bangsa yang selalu sedang menjadi, dan karenanya selalu menerbitkan harapan.

Selamat jalan, Bang. Selamat beristirahat. Terima kasih karena engkau sudah menunjukkan wajah "janji" itu bagi kami untuk dijalani.

Senin, 11 Oktober 2010

Poem

Love (III)
BY GEORGE HERBERT

Love bade me welcome, yet my soul drew back,
Guilty of dust and sin.
But quick-ey'd Love, observing me grow slack
From my first entrance in,
Drew nearer to me, sweetly questioning
If I lack'd any thing.

"A guest," I answer'd, "worthy to be here";
Love said, "You shall be he."
"I, the unkind, ungrateful? ah my dear,
I cannot look on thee."
Love took my hand, and smiling did reply,
"Who made the eyes but I?"

"Truth, Lord, but I have marr'd them; let my shame
Go where it doth deserve."
"And know you not," says Love, "who bore the blame?"
"My dear, then I will serve."
"You must sit down," says Love, "and taste my meat."
So I did sit and eat.


Betapa sering jejak-jejak-Nya tak lagi dapat dicandra di tengah kegelapan malam dan rasa galau menyiksa. Tetapi Suara itu, yang lembut berkata, "Duduklah dan kecaplah Tubuh dan Darah-Ku" membuat saya sadar, Ia tidak pernah pergi meninggalkan saya seorang diri menziarahi hidup. Maka saya pun duduk, dan menyambut Tubuh dan Darah-Nya lagi. Tuhanku, Allahku. Sahabatku, Kekasihku."Tuhanku / di pintu-Mu aku mengetuk / aku tak bisa berpaling." (Chairil Anwar)

Mengharapkan Dua Mukjizat

Catatan ini saya buat di tengah rasa gundah dan kebimbangan yang menggalaukan hati. Boleh jadi, menuliskannya seperti mendaraskan doa sembari mempertaruhkan iman dan harapan bahwa mukjizat memang masih mungkin terjadi.

Sebab perkembangan situasi akhir-akhir ini sungguh membuat hampir seluruh asa putus. Impian tentang "proyek-bersama" yang bernama Indonesia sedang digugat sampai ke akar-akarnya. Serangkaian kekerasan yang terus terjadi, praktik-praktik intoleran yang makin meluas, dan bahkan "politik segregasi" yang mulai menampakkan wajah konkretnya, sungguh menimbulkan tanya tanpa jawaban: apakah Indonesia sebagai rumah bersama semua kelompok, apapun perbedaannya, masih mungkin dibangun?

Berita hari ini dari MetroTV News, misalnya, membuat saya terperangah. Sekitar 50 keluarga, warga Ahmadiyah, yang dipaksa jadi pengungsi di negara sendiri --saya ulangi: pengungsi di negara sendiri!-- di Lombok Barat akan direlokasi di sebuah pulau oleh pihak Pemda. Bagaimana kebijakan semacam itu dapat terbayangkan di dunia sekarang, dunia yang justru sudah meruntuhkan batas-batas antar-bangsa dan bahkan antar-negara? Bukankah ini bentuk konkret dari politik dan praktik segregasi yang hanya dilakukan oleh kelompok fasis, entah dulu oleh rezim Hitler-Nazi maupun sekarang oleh pemerintah Israel terhadap Palestina? Untuk apa negara dengan seluruh aparatusnya ada jika tidak dapat menjamin kehidupan-bersama antar-kelompok masyarakat, dan bukan malah memisahkannya?

Berita itu sungguh menggelisahkan saya, sebab yang dipertaruhkan secara radikal adalah cita-cita maupun peluang bagi masyarakat majemuk yang menjadi proyek-bersama Indonesia. Memang saya tidak terkejut bahwa gagasan politik segregatif itu akhirnya mencuat ke permukaan. Kajian saya tentang politik perukunan rezim Orde Baru membuat saya sadar, ujung paling jauh dari politik perukunan itu adalah kebijakan segregatif. Tapi melihat perkembangan sekarang, rasanya hanya mukjizat Ilahi yang masih memungkinkan ke-Indonesia-an dibangun.

Pada saat bersamaan, saya juga berdoa memohon mukjizat kedua untuk sahabat, rekan, guru, maupun figur panutan yang selama ini saya hormati: Asmara Nababan. Sudah sejak beberapa tahun terakhir, ia bergulat dengan kanker paru-paru yang menggerogoti tubuhnya. Operasi yang dijalani sekitar dua tahun lalu tidak mampu memberantas kanker yang bersarang, dan malah merangsang pertumbuhannya. Kini kanker itu menyebar ke seluruh tubuhnya yang makin rapuh.

Di antara banyak sahabatnya, saya termasuk orang yang tidak terlalu dekat dengan Asmara. Kami mulai agak intensif berinteraksi, bertukar pikiran, dan bekerja sama sejak saya diminta masuk menjadi anggota Badan Pengurus DEMOS. Tapi sudah lama saya mengagumi sepak terjang, dedikasi dan keberaniannya memperjuangkan proyek-bersama Indonesia. Dialah yang meyakinkan saya bahwa jalan demokrasi akan sia-sia jika tidak dilandaskan pada kontrol konkret warga yang sadar ("demos") serta penghormatan pada hak asasi manusia, dua gagasan yang kini kental mewarnai cara pandang saya.

Siang tadi, bersama teman-teman DEMOS, saya menjenguk Asmara di RS Gading Pluit. Rencananya, Selasa pagi --jika kondisinya memungkinkan-- ia akan terbang ke Guangzhou, Cina, guna menjalani terapi. Tetapi melihat kondisinya, saya masygul dan menjerit dalam hati. Hanya mukjizat-Nya yang kini dibutuhkan. Sebab saya sadar, jika dilihat dari kondisi fisik saja, sungguh sulit Asmara mampu melewati pergulatan kali ini. Satu hal yang membuat saya menangis adalah melihat semangat hidup dan dedikasinya pada DEMOS. Ia masih sempat mengingatkan saya untuk rapat Badan Pengurus akhir bulan ini!

Karena itu saya berdoa dan mempertaruhkan iman serta harapan bahwa mukjizat-Nya memang masih mungkin terjadi. Bagi Indonesia, maupun bagi Asmara Nababan. Tetapi biarlah rencana-Nya saja yang jadi.

Jumat, 01 Oktober 2010

Teroris

Kemarin pagi, sebuah bom meledak di dekat pasar Sumber Arta, Kalimalang. Tampaknya bom yang dibawa korban (inisial An.AH, 38 tahun) tak sempat ia ledakkan, entah dengan sasaran apa, tapi keburu meledak dan melukai dirinya sendiri. Korban masih dalam perawatan intensif. Semoga, jika ia sembuh, banyak misteri bisa dikuak. (Ia akhirnya meninggal siang hari, menutup semua misteri dibalik bom rakitan tersebut.)

Tapi yang memukul saya adalah pesan yang ditinggalkan korban dalam secarik kertas. Menurut TempoInteraktif, lelaki itu menulis di secarik kertas: "Ini adalah pembalasan pada kalian sekutu-sekutu setan, membunuh, menghukum mati dan menahan mujahidin. Kami siap mati untuk agama mulia ini."

Apa yang sesungguhnya terjadi dengan bangsa ini? Apa yang sebenarnya sedang berlangsung, baik pada tataran sosial-politik yang luas, maupun pada psykhe orang itu? Siapa itu "sekutu-sekutu setan"? Dan mengapa "agama mulia" butuh pembelaan sampai dengan mengorbankan diri sendiri?

Saya benar-benar merasa bingung. Bangsa ini sudah berjalan ke arah jalan yang tidak lagi dapat dipahami oleh akal sehat.

Kamis, 09 September 2010

Di Seberang Senja

Ini tulisan lama yang pernah saya posting di tempat lain. Saya menulisnya ketika ayah menyelesaikan peziarahannya di dunia ini, dan mencapai Sang Misteri yang tak terpermanai. Sengaja saya taruh di sini, sebagai penanda bahwa kita masih berjalan, menyusuri kelak-kelok kehidupan yang serba misterius, menjalani dari satu ambang batas ke ambang batas berikutnya...
===
Di seberang senja...


Dulu Chairil Anwar pernah berujar dalam salah satu sajaknya, "Hidup adalah menunda kekalahan..." Mungkin dia benar, jika dilihat dari sudut pandang kematian. Bukankah sang Maut selalu menanti di ujung perjalanan hidup? Dan kita semua tidak pernah dapat mengelakkannya--apalagi mengalahkannya?

Hari-hari terakhir ayah saya menceritakan hal lain. Hidup baginya bukan menunda kekalahan, tetapi menunda saat agar dia, pada titik terakhir, dapat berkata, seperti Yesus di ujung hidupnya, "Sudah genap!" Pegalaman menemani saat-saat terakhir kehidupannya sungguh bermakna bagi saya. Ijinkan saya membaginya pada Anda. Siapa tahu bisa berguna.

Ayah menghabiskan sisa-sisa terakhir hidupnya di Panti Werdha Kristen "Hana", di daerah Kedaung, Ciputat. Itu memang pilihannya sendiri, setelah tahu betapa sulit jika dia tinggal entah bersama saya atau kakak saya. Perbedaan generasi yang sangat jauh, terutama dengan anak-anak kami, terbukti sangat sulit dijembatani, dan banyak menimbulkan salah paham yang menyakitkan. Suatu waktu, kami menyarankan tempat di PWK "Hana" padanya. Dengan seketika ia menyukai tempat itu. Di sana, selain perawat yang selalu siap sedia setiap saat, dia dapat bertemu dan ngobrol tentang masa lalu bersama orang-orang yang seusia dengannya. Dan itulah yang sangat dibutuhkannya: orang yang tidak hanya mau mendengar kisahnya, tetapi juga ikut serta dalam banyak peristiwa di masa lampau yang ia alami. Sejak saat itu dia tidak lagi mau pulang ke rumah kami, sebab dia telah menemukan komunitasnya dan, serentak dengan itu pula, "dunia" yang pernah ia kenal sebelumnya.

Akhir Februari lalu, ayah jatuh tergelincir. Pangkal pahanya retak. Kami berkonsultasi dengan dokter, apakah dia perlu dioperasi. Dokter menyarankan tidak. Usianya sudah terlalu lanjut, sehingga tindakan medis apapun--apalagi operasi!--tidak akan banyak membantu, bahkan dapat membahayakan jiwanya. Sejak itu ayah harus terbaring di ranjang, dan perlahan-lahan kondisi tubuhnya melemah. Awal Juli lalu kami harus membawanya ke RS Bintaro untuk mendapat transfusi darah, karena Hb-nya turun drastis. Sejak saat itu kami sadar, hari-hari akhir ayah sudah semakin dekat.

Dua minggu lalu ayah mengalami krisis. Nafasnya sesak, dan dia tidak mau makan. Dokter harus memasang selang bantu agar ia dapat makan. Ketika saya mengunjunginya, saya melihat tubuhnya yang dulu besar dan kekar (waktu saya kecil, ia sering menggendong saya) semakin keriput, hanya tersisa tulang belulang dan banyak luka di bagian belakang tubuhnya karena harus berbaring lama. Saya seperti melihat orang lain, bukan ayah yang pernah saya kenal. Tubuh itu sudah sedemikian rapuh, tergeletak tanpa daya dan tenaga di ranjang. Hati saya menjerit, "Tuhan, jika memang sudah saatnya, semoga itu semua berjalan tanpa harus melalui penderitaan yang panjang." Saya berbisik padanya, bahwa semua anak dan cucunya akan berkumpul tanggal 6 Agustus nanti untuk berdoa baginya. Ia mengangguk lemah.

Hari Minggu, tanggal 6 Agustus, kami menepati janji. Kami semua--anak-anak, cucu, saudara, menantu, dan lainnya--berkumpul di ruang tempat ayah dirawat, membuat ibadah sederhana. Ayah hampir tidak lagi dapat mengenali kami semua. Ia bahkan tidak lagi mampu ikut menyanyikan lagu gereja yang sangat disukainya. Pandangannya menerawang jauh, seakan-akan melihat dunia di seberang sana. Selesai berdoa, saya berbisik padanya: "Ayah, jika saatnya sudah tiba, pergilah dalam damai. Pergilah, karena ayah nanti akan bertemu kembali dengan Ibu dan Sri Ekawati. Kami semua sudah siap dan merelakan ayah kembali pada Tuhan." Saya melihat matanya basah. Mungkin ia menangis. Mungkin cuma karena keringatnya saja.

Senin sore, 7 Agustus, tepat 24 jam setelah ibadah itu, ayah tertidur lelap dan tidak bangun lagi. Ia sudah pergi, menjalani perjalanan lain menuju Penciptanya--perjalanan yang masih dan akan selalu menjadi misteri bagi kita, manusia yang terikat ruang dan waktu ini.

Saya yakin, ayah hanya menantikan saat-saat terakhir itu: ibadah yang menandai kerelaan kami, anak-anaknya, untuk membiarkan ia pergi mengarungi perjalanan baru menuju Penciptanya. Saya tidak tahu persis apakah dia akan bertemu lagi isterinya dan Sri Ekawati, kakak perempuan saya--dua orang yang sangat dicintainya, yang sudah lama mendahului dia--di dunia di seberang sana yang selalu merupakan misteri bagi kita. Mungkin memang begitu. Mungkin juga tidak. Sesungguhnya tidak ada satu orang pun yang tahu pasti. Tetapi gagasan bahwa ada pertemuan kembali di dunia seberang sana--the world beyond the sunset, kata sebuah syair lagu gerejawi--bisa menjadi sumber penghiburan yang sangat dibutuhkan, agar kematian--dan karenanya juga: kehidupan!-- tidak lagi absurd. Agar kehidupan tidak lagi sekadar "menunda kekalahan". Konon, karena alasan yang sama, kata Nietzsche, orang Yunani membuat "Tragedi".

Yang jelas, saat-saat terakhir hidup ayah bukanlah "menunda kekalahan", tetapi suatu penundaan sesaat agar dia dapat berkata, di ujung hidupnya, "Sudah genap!"

Selamat jalan, ayah. Semoga, suatu waktu, kita berjumpa lagi di dunia "di seberang senja".

Jakarta, 11 Agustus 2006

karena hidup adalah perjalanan...

sungguh, bagi saya hidup bukan perbuatan, walau ada iklan seorang tokoh politik, yang kebetulan namanya mirip dengan saya, yang berkata bahwa "hidup adalah perbuatan". kadang saya sendiri tidak memahami apa yang ia maksud. sebab, setahu saya, tokoh politik itu justru belum berbuat apa-apa, kecuali mengiklankan diri sembari berkata, "hidup adalah perbuatan". mungkin yang disebut "perbuatan" oleh dia adalah iklan itu?

saya sering heran melihat bagaimana begitu banyak orang (yang sebagian besar saya kenal, malah sudah cukup lama menjadi teman) mengiklankan diri di media elektronik atau cetak, dan berpikir bahwa masyarakat akan menyukai mereka, lalu memilih mereka saat pemilu mendatang. saya kira mereka menjadi korban dari ilusi media tentang diri mereka sendiri. maksud saya, jika seorang mengiklankan diri, katakanlah, sebagai "pemimpin masa depan", lalu melihat tampang dirinya di media massa, boleh jadi mereka lalu berpikir bahwa mereka memang "pemimpin masa depan". itulah bahaya ilusi media!

dan, di tengah kemahakuasaan media sekarang, bahaya ilusi itu semakin terasa pada hampir seluruh aspek kehidupan. iklan adalah contoh paling bagus. atau juga sinetron. mengapa, misalnya, hampir seluruh produk memasang perempuan cantik-seksi-ramping untuk menemaninya? agar, ketika kita melihat iklan itu, diam-diam kita membuka diri bagi daya seduksi si perempuan cantik-seksi-ramping yang (dalam jiwa kita) diasosiasikan dengan produk yang mau dijual. maka, ketika kita membeli produk itu, perasaannya seperti "menguasai" si perempuan cantik-seksi-ramping itu! sungguh ilusif. tetapi nikmat.

dalam kemahakuasaan media, apa yang nyata memang telah menjadi hiper-nyata, menjadi ilusi penuh seduksi...


kegelisahan saya, melihat banyak teman yang berbondong-bondong masuk bursa politik, mendorong saya untuk menulis esai yang kemudian diterbuitkan SINAR HARAPAN (6 Agustus 2008). saya menyebutnya "pasar mesias" (unduh di sini), walau beberapa teman (yang berlatar belakang teologi) protes karena saya memakai istilah "mesias". sudah tentu, saya tidak memandang calon-calon itu sebagai sungguh-sungguh mesias. sebagai orang yang membaca maurice blanchot, saya sadar bahwa mesias, jika benar-benar datang, tidak akan menggembar-gemborkan kedatangannya lewat media massa.


blanchot pernah menulis perumpamaan soal itu (dimuat dalam bukunya, writing of disaster) begini: suatu kali sang mesias datang dan berteman dengan orang-orang miskin di sekitar yerusalem. banyak orang terkejut melihat kedatangannya. ia nampak biasa-biasa saja. dan, sudah tentu, tidak ada kiamat. hidup berjalan, mengalir seperti biasa. kata orang, "mungkin benar sang mesias sudah tiba. tetapi kami masih menantikannya."


perumpamaan blanchot mau mengatakan bahwa mesias, sesungguhnya, merupakan penantian terbuka. suatu harapan, ketimbang soal apakah ia sungguh-sungguh datang atau tidak. mengimani mesias, karenanya, adalah "mempertaruhkan pengharapan yang ada padamu". dan jika pertaruhan pengharapan itu dilakukan secara kritis dan sistematis, itulah yang disebut praksis ber-teologi.


saya memang sedang berusaha ber-teologi, mempertanggungjawabkan iman dan pengharapan yang ada pada saya di dalam peziarahan ini...

Kamis, 20 Desember 2007

Balada seekor babi

Ini cerita tentang seekor babi. Sudah lama dia resah sekali, karena di daerahnya akan diterapkan Syariat Islam. Padahal, di kalangan binatang, dia adalah satu-satunya non-Muslim.

Ketika Idul Adha kemaren, sang babi berteriak senang. Dia meledek kambing, yang pasrah menerima nasib, begini: "Syukur, loe, pake syariat segala!"

Tapi kesenangannya cuma sehari. Esoknya, si empunya babi yang beragama Kristen dan orang Batak, mau menyembelih dia. Katanya mau untuk lapo yang dibuka olehnya di jalan Pramuka. Kata sang babi, "Dua agama ini emang cilaka!"

Maka pergilah dia meminta bantuan advokasi antar-agama. Datanglah dia ke Obelix, Direktur lembaga antar-iman, meminta nasihat. Jawab Obelix, "Lha, kamu ini makanan saya..."

Sang babi lari pontang-panting. Kemana lagi harus mengadu? Ia ingat Sang Buddha yang penuh welas asih. Kebetulan, minggu lalu, dia baru selesai membaca komik Buddha (8 jilid) terbitan KPG.

Di depan Sang Buddha, babi itu tersungkur, sembari mengadu, "Wahai Buddha yang penuh welas asih, dengarkanlah keluhanku. Aku tahu kamu nggak makan daging, apalagi daging babi. Jadi, bantulah aku, bikinlah tim advokasi para babi untuk membelaku dari dua agama lain yang suka menyembelih itu."

Buddha tersenyum, lalu menjawab, "Babi yang malang, tidakkah kau sadar bahwa seluruh alam semesta ini saling berkaitan? Bahwa setiap makhluk hidup memang saling membutuhkan? Engkau memang ada dalam lingkaran kehidupan sebagai daging yang paling enak untuk disantap manusia. Sadarilah perananmu, dan terimalah dengan suka cita, maka engkau akan mencapai pencerahan, dan tidak lagi takut dikejar-kejar bayangan maut." (KALIMAT BUDDHA INI DISARIKAN DARI 8 JILID KOMIK BUDDHA YANG DITERBITKAN KPG)

Maka seketika itu pula sang Babi mencapai pencerahan. Dia kembali ke tempat Obelix sembari berkata, "Karena kamu yang bisa hidup antar-iman, kuserahkan diriku untuk makananmu."

Obelix tertawa riang. Katanya ke sang babi, "Pergilah pulang ke tempat tuanmu. Minta dia membuat babi panggang dan saksang yang enak. Nanti siang aku akan datang menyantapmu. "

Hidup memang lingkaran, bukan?

OBELIX

Senin, 03 September 2007

Berbagi Kehidupan: Catatan dari 2 September

Tadinya catatan ini tersimpan hanya dalam diary saya. Tetapi saya ingin membagikannya pada Anda (mungkin saya sudah terjangkit virus "blog-mania"?). Siapa tahu ada gunanya:

Tanggal 2 September 18 tahun lalu saya mengambil keputusan paling penting dalam kehidupan saya: menikahi Evelyn Suleeman. Dalam undangan pernikahan kami, saya membuat catatan kecil begini: "Hari ini kami mulai tidak hanya berbagi cinta, tetapi kehidupan..."

Berbagi kehidupan adalah persoalan paling sulit, justru dalam menjalani kehidupan ini sendiri. Bukankah kita lebih sering berpikir bahwa yang penting aku hidup, dan kalau perlu--untuk mempertahankan itu--menyingkirkan yang lain? Bukankah hidup berarti the struggle of the fittest? Istilah itu, the fittest, sudah menegaskan bahwa hanya ada satu yang berhak memperoleh gelar itu. Yang lain, mohon maaf, harap menyingkir...

Tetai kita mulai belajar bahwa kehidupan justru dapat dirawat dan dikembangkan dengan lebih baik jika kita mau saling berbagi. Impian tentang the fittest hanyalah ilusi yang diciptakan dunia modern, ilusi tentang "kemajuan tanpa batas". Sejak 1970-an, walau dengan pahit, kita harus mengakui memang ada the limits of growth, memakai judul buku terkenal dari Klub Roma. Pertumbuhan selalu mengenal batas. Tidak ada kemajuan tanpa batas. Itu hanyalah selubung bagi "nafsu tanpa batas".

Selama 18 tahun saya belajar untuk tidak hanya berbagi cinta, tetapi juga kehidupan, dengan Evelyn. Dan sudah klise jika dikatakan bahwa kehidupan rumah tangga kami naik-turun. Ada saat-saat tertawa penuh kegembiraan, tetapi ada saat-saat menangis penuh kesedihan. Perbedaaan antara kami sungguh banyak. Mulai dari usia, misalnya. Evelyn 6 tahun lebih tua dibanding saya, memiliki pekerjaan dan karier yang lebih mantap. Sementara saya? Mungkin lebih bisa dibilang: seorang pengembara yang selalu gelisah hatinya...

Apalagi sejak 1991 kami memperoleh "kejutan" lain: hadirnya Gabriel Ekaputra. Kadang saya teringat pada Kafka. "Memiliki dan mendidik anak dalam dunia sekarang," katanya suatu kali, "adalah pekerjaan paling mustahil." Dia benar. Tetapi kurang lengkap. Seharusnya ditambahkan begini: "pekerjaan paling mustahil yang paling menyenangkan..." Sebab, dengan kehadiran seorang anak, kehidupan yang harus dibagikan semakin meluas.


Seorang anak adalah sebuah undangan dari masa depan yang penuh misteri. Undangan untuk menjajaki misteri itu sendiri, berjalan bersama misteri menuju pada Sang Misteri...

Berbagi kehidupan selama 18 tahun bersama Evelyn (dan 16 tahun bersama Gabriel juga!) adalah petualangan terbesar yang pernah saya lakukan. Dan saya akan terus menerus bersyukur bahwa 18 tahun lalu saya mempunyai sedikit keberanian untuk bertanya padanya: "will you marry me?"

Kamis, 30 Agustus 2007

Catatan Awal 2

Masih tentang fenomenologi blog...

Tentu saja, orang bisa "anonim" dalam blog. Toh tidak ada ketentuan bahwa seorang blogger harus mencantumkan identitas asli. Dia bisa membuat identitas maya apa saja--semacam avatar, kalau memakai istilah dari Yahoo! Dan, dalam setiap blog, selalu ada disclaimer begini: siapa suruh Anda percaya apa yang saya tulis di blog saya!

Blog adalah sejenis ekshibisionis pasca-modern. Ekshibisionis anonim, kalau istilah yang contradictio in terminis ini bisa dipakai. Jika Anda mau percaya boleh, menganggapnya sebagai ocehan belaka ya boleh saja. Tetapi, tetap saja, betapapun maya identitas seseorang, kebutuhan untuk intimacy itu sangat terasa, serta dorongan untuk memamerkan intimacy itu pada siapa saja yang mau melihatnya. Sama seperti fenomena HP. Sekarang ini, fungsi HP yang lebih menonjol justru untuk merekam adegan intim... (koq intimacy mau dipamerkan!). Ada kecenderungan di mana orang berbicara di blog seperti menulis di catatan harian yang paling privat, mengenai perasaan-perasaan terdalam, termasuk masalah rumah tangga. Padahal dia tahu persis, blog-nya bisa dibaca oleh semua orang yang kebetulan mampir mencari-cari sesuatu di dunia maya...

Mungkin benar, blog berkaitan dengan tendensi paling dalam dari seseorang: kebutuhan akan sang liyan untuk berbagi sesuatu. Dan kebutuhan itu terasa semakin langka dalam dunia di mana revolusi teknologi komunikasi justru sangat menentukan. Aneh, kita selalu berkomunikasi lewat apa saja, tetapi kita tidak pernah sungguh-sungguh membentuk communio. Karena communio yang sejati justru lahir dari penghayatan atas solitude: saya berbagi keheningan di dalam keheningan bersama Anda.

Mungkinkah blog menjadi sarana untuk berbagi keheningan bersama? Tentu saja bisa. Blog adalah sekadar sarana saja. Bagaimana kita memperlakukan sarana itu, saya kira, itulah yang akan menentukan apa yang mau dicapai. Catatan-catatan dalam blog ini merupakan upaya sederhana untuk membagikan keheningan saya pada Anda. And the rest is silence...

===
Lho, koq jadinya serius, rek?
Ini guyonan segar, sebelum kembali "menggauli keheningan":
JUDUL-JUDUL FILM NGETOP (IN JAVANESE) *

Enemy at the Gates ˜ Musuhe Wis Tekan Gapuro
Die Hard ˜ Matine Angel
Die Hard II ˜ Matine Angel Tenan
Die Hard III With A Vengeance ˜ Kowe Kok Ra Mati2 To?
Bad Boys ˜ Bocah-bocah Elek
Lost in Space ˜ Ilang Neng Awang-awang
X-Men ˜ Wong Lanang Saru
X-Men 2 ˜ Wong Lanang Saru Banget
Cheaper by the Dozen ˜ Tuku Selusin Luwih Murah
Paycheck ˜ Kasbon
Independence Day ˜ Pitulasan
The Day After Tomorrow ˜ Sesuke
Die Another Day ˜ Modare Ojo Saiki
There is Something About Marry ˜ Meri Ono Apa-apane
Silence of the Lamb ˜ Wedhuse Mutung
All The Pretty Horses ˜ Jarane Ayu2
Planet of the Apes ˜ Planete Wong Apes
Gone in Sixty Second ˜ Minggat Sakcepete
Original Sin ˜ Dosa Tenanan
The Abyss ˜ Entek-entekan
Seabiscuit ˜ Klethikan Neng Laut
Terminator ˜ Terminal Montor
How To Lose A Guy in 10 Days ˜ Piye Carane Megat Lanangan mung 10 Dino
Lord Of The Ring ˜ Pedagang Akik...
Deep Impact ˜ Ngantem Njero
Million Dollar Baby ˜ Babi Regone Sayuto
Blackhawk Down ˜ Manuk Ireng Kenek Bedhil
Saving Private Ryan ˜ Ngelesi Privat Mas Rian (pancene goblog tenan opo?)

*terima kasih pada Ridwan yang mengirimkannya. Disclaimer: Maaf kepada mereka yang tidak bisa berbahasa Jawa. Juga maaf kepada orang Jawa.

Kamis, 23 Agustus 2007

Catatan Awal

Salam!

Ini adalah posting blog pertama saya. Kadang saya pun bertanya-tanya, mengapa "blog" menjadi begitu populer? Mengapa orang begitu ingin berbagi tentang semua hal, mulai dari pikiran-pikiran sesaat yang sering menggelisahkan, soal yang serius, humor, atau bahkan soal yang terlalu pribadi untuk, sesungguhnya, dibagikan? Apakah ini kecenderungan hidup kita sekarang, ketika arus perubahan global sedang membuat kehidupan ini tunggang langgang--dan kita membutuhkan sejenis pegangan, seseorang yang dapat diajak berbagi, betapapun mayanya? Apakah dengan cara itu kita mendapat secuil tanah pijakan (walau dalam alam maya!) untuk mencipta-ulang identitas?

Kadang saya merasakan bahwa upaya untuk menghidupi masa sekarang adalah upaya untuk meniti ketegangan dan tarikan dari dua arus berbeda yang sedemikian kuat membetot kita: individualisasi vs. keinginan untuk menjadi bagian dari "publik". Pada satu pihak, rasanya baru pada zaman inilah individu sungguh-sungguh dirayakan dengan seluruh kemungkinan, sumberdaya, dan kekuatannya; tetapi, pada pihak lain, hidup sepenuhnya sendiri semakin terasa tak tertahankan, sehingga kita mencari-cari sekuat tenaga sesuatu yang dapat direngkuh yang, dengannya, kita merasa menjadi bagian dari "publik". Mempublikasikan "blog" adalah upaya untuk menghidupi ketegangan itu...